ASWAJA DALAM CENGKRAMAN DUA IDEOLOGI
BESAR DUNIA
Dalam bingkai sejarah kita telah
menyaksikan bersama-sama pergolakan Ahlussunah wal Jamaah tidak hanya
dalam madzhab teologi, tapi juga geopolitik, sosial, ekonomi dan budaya.
Menyaksikan Aswaja dalam titik yang riskan di tiap jenjang periode perjuangan
untuk melestarikan islam yang moderat, tolelran serta menjunjung tinggi
nilai-nilai kemaslahatan umat.
Kita juga tahu
bersama ketika membaca buku Sejarah Peradaban Islam, gerakan pemberontakan dan
kudeta politik Muawiyah bin Abu Shofyan untuk menggulingkan rezim kekuasaan Aly
bin Abi Tholib adalah awal perpecahan besar umat islam. Penafsiran Al-Qur’an
dan Al-Hadist demi kepentingan politik mulai terkordinir dalam sebuah aliran.
Muawiyah dengan Jabariyahnya tampak sangat perkasa di awal periodesasi
kepemimpinannya, tapi gerakan Qodariyyah sebagai antitesis gerakan Jabariyah
yang di pelopori Muhammad bin Ali semakin mendapat simpati dari masyarakat.
Hingga gerakan tersebut memunculkan tokoh fenomenal seperti Washil bin Atho,
pelopor transformasi Qodariyah menjadi madzhab Islam Rasionalis Mutazilah, Abu
Huzail Al-Allaf, Al-Juba’i, Hingga tiba masa kejayaan Mutazillah menjadi madzhab
resmi negara di zaman Khalifah Al-Ma’mun (Dinasti Abasiyah). Dari Mutazilah lah
muncul sebuah Golongan baru yang hingga sekarang pengikutnya terbesar di dunia
yaitu Ahlussunah wal Jamaah, dasar Filosofius yang kuat yang di bangun oleh
pendirinya Abu Hasan Al-Asy’ari yang tak lain murid dari Al-Juba’i dengan
membakukan hadist nabi riwayat
Imam Tirmidzi
من كان على مثل ما
أنا عليه وأ صحا بى (أهل السنة والجماعة)
Menjadi sebuah Madzhab
Golongan Moderat yang hingga sekarang masih segar menghiasi pemikiran Islam
abad Posmoderen.
Bicara Aswaja dalam
pemetaan Eksistensi di era abad dua puluh satu ini tak terlepas dari gerakan
politik yang di lakukan Sultan Mahmud Al-Fatih. Turky Ustmani pimpinan Sultan
Mahmud Al-Fatih pada saat itu menjadi basis populasi Madzhab Ahlussunah wal
Jamaah berhasil menaklukan Ibu Kota Romawi Bizantium, kota yang menjadi simbol
kebesaran Eropa, kota bentukan Kaisar Legendaris Romawi Konstantine, Kota yang
dulu akrab di sebut Konstantinopel berhasil di taklukan pada tahun 1435 M. Penaklukan
kota Konstantinopel justru menjadi awal kebangkitan Eropa, munculonya tiga Revolusi
besar Eropa, Revolusi Industri, Revolusi Intelektual dan Revolusi Teologi
menjadi motivasi besar eropa untuk berdiaspora menaklukan bangsa lain. Gereja
sebagai otoritas tertinggi ketuhanan Eropa berkonspirasi dengan Kekaisaaran
Sepanyol dan Portugis untuk melakukan ekspedisi perdagangan dengan tiga misi
besar, Gold, Glory dan Gospel.
Keberhasilan mereka mulai jelas dengan di temukanya semenanjung harapan
oleh Vasco da Gama dan penaklukan benua Amerika yang di awali oleh Cristopolus
Colombus semakin menjadikan eropa besar di abad pertengahan. Gerakan Eropa yang
di tunggangi oleh ras Yahudi yang terkordinir dalam sebuah ordo rahasia
Fremasomre juga menancapkan basis Idiologisasi ekonomi yaitu Kapitalisme yang di
konsep oleh pakar Ekonom Skotlandia Adam Smith yang hingga sekarang Idiologi
Kapitalisme masih sangat merajai percaturan Politik, Ekonomi Global. Kemudian
di alur dekadenya muncul pemberontakan Proletarian yang di komandoi oleh Karl
Max sebagai tokoh intelektual dan Eangles yang terkordinir dalam sebuah faham
ekonomi yaitu Komunisme Sosialisme yang kemudian menjelma menjadi faham
Idiologi Komunisme.
Hingga kini
perdebatan Faham serta pertarungan Eksistensi antara Kapitalisme dengan
Komunisme semakin memanas, Faham Kapitalisme yang meruncing menjadi negara
Amerika Serikat, Inggris dan negara Eropa Lainya sering melakukan bentrok
politik hingga militer dengan negara Komunis yang di wakili Rusia, Cina, dan
Korea Utara. PBB pun hanya menjadi ajang bual-bualan negara-negara tersebut
hingga mengesampingkan negara-negara berkembang seperti Pakistan, Syiria,
Mesir, Libanon, Indonesia dan lain-lain yang notabenya menjadi basis populasi
dari ajaran Ahlussunah Wal Jamaah.
Kita semua juga tahu
ketika menyaksikan siaran berita di TV, konflik Internal negara-negara timur
tengah sangat memanas. Penggulingan kekuasaan, kudeta militer, hingga gerakan
sparatis yang di lakuykan Rakyat atas nama kebenaran dan kesejahteraan begitu
familiar kita dengar, padahal sebenarnya itu bukan masalah internal negara,
melainkan sebuah dramatisasi politik yang di lakukan Negara-negara kapitalis
untuk menguasai sumber minyak yang di miliki oleh negara-negara suni dan juga gerakan
adu domba hingga mendiskriditkan negara Islam Persia pengembang Nuklir Iran
menjadi aktifitas politik negara Kapitalis. Iran menjadi basis faham Syi’ah yang
begitu mengagungkan ahlul bait (keturunan nabi) memiliki kemajuan
teknologi yang luar biasa dan di topang banyaknya sumber minyak bumi menjelma
menjadi negara yang sangat di takuti oleh Negara Kapitalis dan Komunis. Negara
kapitalis pun Aktif melancarkan serangan opini melalui media yang memang di
kuasai olehnya. Sementara negara basis faham Ahlussunah wal Jama’ah atau
lebih singakat di sebut Suni menjadi bual-bualan adu domba oleh negara
Kapitalis. Agen-agen Mossad dari Israel atau pun CIA telah sukses meluluh
lantakan sistem politik negara-negara Suni, yang berdampak pada hancurnya
ketahanan ekonomi negara-negara Suni.
Namun dari
konflik-konflik negara Suni tersebut, harapan kemajuan Islam masih sangat
besar, Nabi Muhammad bahkan memberi petunjuk bahwa islam di akhir zaman akan
besar di timur. Itu menjadi sebuah aba-aba besar bagi negara islam bagian Timur
untuk terus memompa semangat memperjuangkan Islam. Indonesia dengan jumlah penduduk
terbesar ke Empat dunia tak di ragukan lagi menjadi negara yang paling
potensial menjadi negara yang di maksud oleh Nabi Muhammad tersebut. Mayoritas
penduduk Islam Indonesia berfaham Ahlussunah wal Jama’ah dengan di
bentengi oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia yaitu
Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah. Kita juga tidak bisa mengesampingkan peran
aktif dua Organisasi Islam tersebut dalam memperjuangkan kesatuan NKRI,
bagaimana pun sudah hampir 80 tahun lebih dua organisasi ini membentengi
Indonesia agar tetap digdaya dalam hal Ekonomi, Politik maupun militer dan
berperan aktif dalam upaya kemerdekaan Indonesia. Peran dua Organisasi ini yang
masing-masing saling mengaku berhalauan Ahlussunah wal Jama’ah yang
membuat Indonesia hingga saat ini tidak bisa di adu domba oleh negara-negara
Kapitalis. Indonesia dengan potensi kekayaan alam yang luar biasa menjadi
sasaran Investor-investor Kapitalis untuk menancapkan kukunya, tapi peran dua
Organisasi Ahlussunah wal Jama’ah ini mampu membendung gerakan politik
yang di lakukan oleh negara Kapitalis, hingga nasib Indonesia tidak sama dengan
Negara-negara suni yang ada di timur Tengah.
Kita sangat
menyoroti peran Nahdlatul Ulama dengan tokoh-tokoh Ulama Karismatik di
dalamnya, dengan landasan berfikir
المحفضة على قدم
الصليح والأحض بجدد الأصلاح
Menjadikan kemasan
Islam sebagai Agama yang Rohmatal lil Alamin yang Toleran, Moderat,
Adil, dan memprioritaskan Keseimbangan. Indonesia adalah harapan besar umat
Islam dunia untuk menjadikan Islam jaya kembali seperti dulu ketika zaman Khulafaur
Rosyiodin hingga dinasti Turky Utsmani. Dan harapan merobohkan kembali simbol kejayaan bangsa kafir seperti dulu kala ketika
Sultan Mahmud Al-Fatih merobohkan dinding kota Konstantinopel masih sangat
besar, dan harapan besar itu ada pada Indonesia, negara berfaham Ahlussunah
Wal Jama’ah terbesar di dunia.
By :
Cp : 0857 4087 3731
Komplek Pon. Pes. Sunan Drajat – Paciran –
Lamongan