Sunday, November 9, 2014

ASWAJA DALAM CENGKRAMAN DUA IDEOLOGI BESAR DUNIA

ASWAJA DALAM CENGKRAMAN DUA IDEOLOGI BESAR DUNIA

         Dalam bingkai sejarah kita telah menyaksikan bersama-sama pergolakan Ahlussunah wal Jamaah tidak hanya dalam madzhab teologi, tapi juga geopolitik, sosial, ekonomi dan budaya. Menyaksikan Aswaja dalam titik yang riskan di tiap jenjang periode perjuangan untuk melestarikan islam yang moderat, tolelran serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemaslahatan umat.
Kita juga tahu bersama ketika membaca buku Sejarah Peradaban Islam, gerakan pemberontakan dan kudeta politik Muawiyah bin Abu Shofyan untuk menggulingkan rezim kekuasaan Aly bin Abi Tholib adalah awal perpecahan besar umat islam. Penafsiran Al-Qur’an dan Al-Hadist demi kepentingan politik mulai terkordinir dalam sebuah aliran. Muawiyah dengan Jabariyahnya tampak sangat perkasa di awal periodesasi kepemimpinannya, tapi gerakan Qodariyyah sebagai antitesis gerakan Jabariyah yang di pelopori Muhammad bin Ali semakin mendapat simpati dari masyarakat. Hingga gerakan tersebut memunculkan tokoh fenomenal seperti Washil bin Atho, pelopor transformasi Qodariyah menjadi madzhab Islam Rasionalis Mutazilah, Abu Huzail Al-Allaf, Al-Juba’i, Hingga tiba masa kejayaan Mutazillah menjadi madzhab resmi negara di zaman Khalifah Al-Ma’mun (Dinasti Abasiyah). Dari Mutazilah lah muncul sebuah Golongan baru yang hingga sekarang pengikutnya terbesar di dunia yaitu Ahlussunah wal Jamaah, dasar Filosofius yang kuat yang di bangun oleh pendirinya Abu Hasan Al-Asy’ari yang tak lain murid dari Al-Juba’i dengan membakukan hadist nabi  riwayat Imam Tirmidzi
من كان على مثل ما أنا عليه وأ صحا بى (أهل السنة والجماعة)
Menjadi sebuah Madzhab Golongan Moderat yang hingga sekarang masih segar menghiasi pemikiran Islam abad Posmoderen.
Bicara Aswaja dalam pemetaan Eksistensi di era abad dua puluh satu ini tak terlepas dari gerakan politik yang di lakukan Sultan Mahmud Al-Fatih. Turky Ustmani pimpinan Sultan Mahmud Al-Fatih pada saat itu menjadi basis populasi Madzhab Ahlussunah wal Jamaah berhasil menaklukan Ibu Kota Romawi Bizantium, kota yang menjadi simbol kebesaran Eropa, kota bentukan Kaisar Legendaris Romawi Konstantine, Kota yang dulu akrab di sebut Konstantinopel berhasil di taklukan pada tahun 1435 M. Penaklukan kota Konstantinopel justru menjadi awal kebangkitan Eropa, munculonya tiga Revolusi besar Eropa, Revolusi Industri, Revolusi Intelektual dan Revolusi Teologi menjadi motivasi besar eropa untuk berdiaspora menaklukan bangsa lain. Gereja sebagai otoritas tertinggi ketuhanan Eropa berkonspirasi dengan Kekaisaaran Sepanyol dan Portugis untuk melakukan ekspedisi perdagangan dengan tiga misi besar, Gold, Glory dan  Gospel. Keberhasilan mereka mulai jelas dengan di temukanya semenanjung harapan oleh Vasco da Gama dan penaklukan benua Amerika yang di awali oleh Cristopolus Colombus semakin menjadikan eropa besar di abad pertengahan. Gerakan Eropa yang di tunggangi oleh ras Yahudi yang terkordinir dalam sebuah ordo rahasia Fremasomre juga menancapkan basis Idiologisasi ekonomi yaitu Kapitalisme yang di konsep oleh pakar Ekonom Skotlandia Adam Smith yang hingga sekarang Idiologi Kapitalisme masih sangat merajai percaturan Politik, Ekonomi Global. Kemudian di alur dekadenya muncul pemberontakan Proletarian yang di komandoi oleh Karl Max sebagai tokoh intelektual dan Eangles yang terkordinir dalam sebuah faham ekonomi yaitu Komunisme Sosialisme yang kemudian menjelma menjadi faham Idiologi Komunisme.
Hingga kini perdebatan Faham serta pertarungan Eksistensi antara Kapitalisme dengan Komunisme semakin memanas, Faham Kapitalisme yang meruncing menjadi negara Amerika Serikat, Inggris dan negara Eropa Lainya sering melakukan bentrok politik hingga militer dengan negara Komunis yang di wakili Rusia, Cina, dan Korea Utara. PBB pun hanya menjadi ajang bual-bualan negara-negara tersebut hingga mengesampingkan negara-negara berkembang seperti Pakistan, Syiria, Mesir, Libanon, Indonesia dan lain-lain yang notabenya menjadi basis populasi dari ajaran Ahlussunah Wal Jamaah.
Kita semua juga tahu ketika menyaksikan siaran berita di TV, konflik Internal negara-negara timur tengah sangat memanas. Penggulingan kekuasaan, kudeta militer, hingga gerakan sparatis yang di lakuykan Rakyat atas nama kebenaran dan kesejahteraan begitu familiar kita dengar, padahal sebenarnya itu bukan masalah internal negara, melainkan sebuah dramatisasi politik yang di lakukan Negara-negara kapitalis untuk menguasai sumber minyak yang di miliki oleh negara-negara suni dan juga gerakan adu domba hingga mendiskriditkan negara Islam Persia pengembang Nuklir Iran menjadi aktifitas politik negara Kapitalis. Iran menjadi basis faham Syi’ah yang begitu mengagungkan ahlul bait (keturunan nabi) memiliki kemajuan teknologi yang luar biasa dan di topang banyaknya sumber minyak bumi menjelma menjadi negara yang sangat di takuti oleh Negara Kapitalis dan Komunis. Negara kapitalis pun Aktif melancarkan serangan opini melalui media yang memang di kuasai olehnya. Sementara negara basis faham Ahlussunah wal Jama’ah atau lebih singakat di sebut Suni menjadi bual-bualan adu domba oleh negara Kapitalis. Agen-agen Mossad dari Israel atau pun CIA telah sukses meluluh lantakan sistem politik negara-negara Suni, yang berdampak pada hancurnya ketahanan ekonomi negara-negara Suni.
Namun dari konflik-konflik negara Suni tersebut, harapan kemajuan Islam masih sangat besar, Nabi Muhammad bahkan memberi petunjuk bahwa islam di akhir zaman akan besar di timur. Itu menjadi sebuah aba-aba besar bagi negara islam bagian Timur untuk terus memompa semangat memperjuangkan Islam. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar ke Empat dunia tak di ragukan lagi menjadi negara yang paling potensial menjadi negara yang di maksud oleh Nabi Muhammad tersebut. Mayoritas penduduk Islam Indonesia berfaham Ahlussunah wal Jama’ah dengan di bentengi oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah. Kita juga tidak bisa mengesampingkan peran aktif dua Organisasi Islam tersebut dalam memperjuangkan kesatuan NKRI, bagaimana pun sudah hampir 80 tahun lebih dua organisasi ini membentengi Indonesia agar tetap digdaya dalam hal Ekonomi, Politik maupun militer dan berperan aktif dalam upaya kemerdekaan Indonesia. Peran dua Organisasi ini yang masing-masing saling mengaku berhalauan Ahlussunah wal Jama’ah yang membuat Indonesia hingga saat ini tidak bisa di adu domba oleh negara-negara Kapitalis. Indonesia dengan potensi kekayaan alam yang luar biasa menjadi sasaran Investor-investor Kapitalis untuk menancapkan kukunya, tapi peran dua Organisasi Ahlussunah wal Jama’ah ini mampu membendung gerakan politik yang di lakukan oleh negara Kapitalis, hingga nasib Indonesia tidak sama dengan Negara-negara suni yang ada di timur Tengah.
Kita sangat menyoroti peran Nahdlatul Ulama dengan tokoh-tokoh Ulama Karismatik di dalamnya, dengan landasan berfikir
المحفضة على قدم الصليح والأحض بجدد الأصلاح
Menjadikan kemasan Islam sebagai Agama yang Rohmatal lil Alamin yang Toleran, Moderat, Adil, dan memprioritaskan Keseimbangan. Indonesia adalah harapan besar umat Islam dunia untuk menjadikan Islam jaya kembali seperti dulu ketika zaman Khulafaur Rosyiodin hingga dinasti Turky Utsmani. Dan harapan merobohkan kembali simbol kejayaan bangsa kafir seperti dulu kala ketika Sultan Mahmud Al-Fatih merobohkan dinding kota Konstantinopel masih sangat besar, dan harapan besar itu ada pada Indonesia, negara berfaham Ahlussunah Wal Jama’ah terbesar di dunia.


By :


Cp : 0857 4087 3731

Komplek Pon. Pes. Sunan Drajat – Paciran – Lamongan


0 comments: