Tuesday, November 11, 2014

CERDAS MENYIKAPI KENAIKAN HARGA BBM DENGAN KEMIRI SUNAN

Filled under:

CERDAS MENYIKAPI KENAIKAN HARGA BBM DENGAN KEMIRI SUNAN

 Kenaikan harga BBM menjadisebuah isu naional yang hangat di bicarakan semua lapisan masyarakat saat ini. Tak heran karena BBM seakan sudah menjadi kebutuhan primer warga Indonesia, mulai dari kalangan menengah kebawah hingga kaum pebisnis. BBM oleh zaman moderen yang mengatasnamakan globalisasi di sulap menjelma menjadi tolak ukur kurs kenaikan mata uang dunia, hampir bisa di pastikan jika BBM naik, harga sembako, dan kebutuhan sehari-hari rakyat ikut naik.
 Indonesia saat ini berada dalam situasi genting, dimana problematika nasional seperti kemiskinan, pengangguran, isu perselisihan sekterian yang sudah lama menjadi PR besar bangsa ini masih belum terselesaikan, masyarakat justru di kejutkan dengan isu kenaikan harga BBM, tampaknya ini menjadi persoalan yang sangat rumit pada saat ini. Pemerintah pun sebenarnya tak cuma duduk manis. Isu kenaikan harga BBM yang sudah santer di bicarakan akan naik pada tahun 2011 kemarin, oleh DPR RI dalam sidang Paripurna tahun 2011 kemarin menggagalkan kenaikan harga BBM yang mencapai kisaran Rp. 6.000,-. Tapi di tahun 2013 ini isu itu pun muncul kembali, sempat pemerintah akan mengeluarkan kebijakan dua harga untuk kalangan menengah keatas dan ke bawah, namun kebijakan pemerintah di rasa tidak efektif dan justru malah bisa membuat kerancauan dalam subsidinya.
 SBY dalam sebuah Konferensi Persdi ruang kerja  Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu 12 Juni 2013 kemarin mengatakan “saya siap menaggung resiko, atas kebijakan yang tidak populis ini, dari pada menyerahakan beban kepada pemerintahan yang selanjutnya”. Presiden juga mengatakan bahwa kenaikan harga BBM tidak bisa di cegah lagi mengingat harga minyak dunia sudah lama naik. Hal ini memang tidak bisa di pungkiri, walaupun indonesia salah satu negara pemroduksi Minyak mentah Dunia dan juga salah satu dari negara anggota OPEC, tapi keterikatan Indonesia dengan Amerika dalam Garis Ekonomi global tak bisa di pungkiri. Memanasnya situasi politik antara Amerika dan Iran selaku salah satu negara pemasok terbesar minyak mentah dunia juga berdampak pada Indonesia yang hingga saat ini masih belum memiliki indeedensi perekonomian, dan kalau boleh jujur, Indonesia masih membonceng alur ekonomi Amerika, mengingat kedekatan Rezim SBY dengan Amerika sudah terbangut cukup lama. Mencuplik dari perktaan SBY di atas juga jika BBM tidak di naikan sekarang justru akan mengganggu stabilitas kepemimpinan Rezim Presiden terpilih nanti pada pemilu tahun 2014 mendatang.
 Pemerintah pun mengupayakan untuk meminimalis dampak sosial yang di akibatkan kenaikan harga BBM yang akan jatuh pada kisaran harga Rp. 6.500,-. Salah satunya dengan mengadakan program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Beras Untuk Masyarakat Miskin (Raskin), yang di tambah Progam Keluarga Harapan (PKH) yang di tambah anggaranya beasiswa unuk murid miskuin dan lain-lain. Namun tampaknya kebijakan pemerintah ini tak lepas dari kritik-kritik dari berbagai kalangan lapisan masyarakat. Mengingat kebijakan seperti ini sudah pernah di terapkan sebelumnya tapi hasilnya masih belum memenuhi keinginan dari pemerintah dan masyarakat. Banyak bantuan yang tidak tersubsidi pada rakyat yang benar-benar miskin, dan penerima bantuan pun justru banyak dari kalangan menengah ke atas. Tampaknya hal tersebut seharusnya juga menjadi pertimbangan pemerintah tersendiri dalam mengambil sebuah kebijakan yang memang di tujukan untuk mengurangi beban masyarakat miskin sebagai akibat dari dampak naiknya harga BBM.
 Menaggapi problematika nasional seperti ini, terdapat trobosan yang sangat mutahir yang di lakukan oleh Prof. Dr. K.H Abdhul Ghofur, pengasuh pondok pesantren Sunan Drajat yang berada di kawasan pantura, lebih tepatnya berada di kecamatan Paciran kabupaten Lamongan. Terobosan mutakhir tersebut adalah pembudidayaan Kemiri Sunan yang sudah di lakukan oleh Ya’i Ghofur (Panggilan Akrab K.H Abdul Ghofur) sejak tiga tahun yang lalu tampaknya sudah tinggal menunggu hasilnya. Penanaman masal Kemiri Sunan yang memiliki nama latin Reutealis Trisperma yang berada di kawasan Makam Wisata Sunan Drajat sudah di resmikan menjadi Kebun Induk oleh Staf Ahli Kementrian Pertanian pada 2011 kemarin.
 Kemiri Sunan sendiri dapat di olah menjadi berbagai macam bahan seperti pupuk, gliserol, biogas, bahkan biodisel bisa menjadi solusi yang ampuh untuk menyikapi kenaikan harga BBM jika perhatian dan kesadaran masyarakat dalam membudidayakan Kemiri Sunan dan di dukung oleh kerja aktif pemerintah dapat terrealisasikan dengan baik, masyarakat tak kan cemas lagi dengan harga BBM yang melambung tingggi, naik hingga Rp. 2.000,-. Karena dalam pemakaian BBM setiap harinya dapat di alihkan menggunakan hasil dari pengolahan kemiri sunan. Namun tampaknya hingga saat ini perhatian pemerintah etempat maupun masyarakat masih sangat minim dalam pembudidayaan tanaman ini. Jika tiap masyarakat menanam kemiri sunan di depan rumahnya, bayangkan dengan 10 biji kemiri sunan dapat menghasilkan minyak sebanyak 4 Liter, padahal satu pohon kemiri sunan yang sudah tua dapat menghasilkan hingga 300 biji, itu berarti menghasilkan minyak sebanyak 120 Liter.Berarti  setiap satu keluarga dapat menghemat pengeluaranya yang seharusnya di pakai untuk membeli BBM hingga satu tahun penuh bahkan dapat mencapai surplus pengeluaran, dengan catatan pemerintah daerah setempat menyediakan tempat pengelolahan biji kemiri sunan. Paling tidak di tiap kabupaten atau bahkan di tiap kecamatanya oleh pemerintah di buatkan tempat pengelolahan biji kemiri sunan.



 Jika hal tersebut dapat terrealisasikan dengan baik, tak hayal jika dalam 5 hingga 10 tahun kedepan Indonesia akan menjadi negara yang tak lagi tergantung pada minyak dunia dan memiliki independensi perekonomian dan stabilitas prekonomian sendiri, dan akan menjadi negara percontohan negara lain dalam hal penghematan Minyak Mentah dunia yang semakin hari semakin menipis.

0 comments: