CERDAS MENYIKAPI KENAIKAN HARGA BBM DENGAN KEMIRI SUNAN
Kenaikan harga BBM menjadisebuah isu naional yang hangat di
bicarakan semua lapisan masyarakat saat ini. Tak heran karena BBM seakan sudah
menjadi kebutuhan primer warga Indonesia, mulai dari kalangan menengah kebawah
hingga kaum pebisnis. BBM oleh zaman moderen yang mengatasnamakan globalisasi
di sulap menjelma menjadi tolak ukur kurs kenaikan mata uang dunia, hampir bisa
di pastikan jika BBM naik, harga sembako, dan kebutuhan sehari-hari rakyat ikut
naik.
Indonesia saat ini berada dalam situasi genting, dimana
problematika nasional seperti kemiskinan, pengangguran, isu perselisihan
sekterian yang sudah lama menjadi PR besar bangsa ini masih belum
terselesaikan, masyarakat justru di kejutkan dengan isu kenaikan harga BBM,
tampaknya ini menjadi persoalan yang sangat rumit pada saat ini. Pemerintah pun
sebenarnya tak cuma duduk manis. Isu kenaikan harga BBM yang sudah santer di
bicarakan akan naik pada tahun 2011 kemarin, oleh DPR RI dalam sidang Paripurna
tahun 2011 kemarin menggagalkan kenaikan harga BBM yang mencapai kisaran Rp.
6.000,-. Tapi di tahun 2013 ini isu itu pun muncul kembali, sempat pemerintah akan
mengeluarkan kebijakan dua harga untuk kalangan menengah keatas dan ke bawah,
namun kebijakan pemerintah di rasa tidak efektif dan justru malah bisa membuat
kerancauan dalam subsidinya.
SBY dalam sebuah Konferensi Persdi ruang kerja Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu 12
Juni 2013 kemarin mengatakan “saya siap menaggung resiko, atas kebijakan yang
tidak populis ini, dari pada menyerahakan beban kepada pemerintahan yang
selanjutnya”. Presiden juga mengatakan bahwa kenaikan harga BBM tidak bisa di cegah
lagi mengingat harga minyak dunia sudah lama naik. Hal ini memang tidak bisa di
pungkiri, walaupun indonesia salah satu negara pemroduksi Minyak mentah Dunia
dan juga salah satu dari negara anggota OPEC, tapi keterikatan Indonesia dengan
Amerika dalam Garis Ekonomi global tak bisa di pungkiri. Memanasnya situasi
politik antara Amerika dan Iran selaku salah satu negara pemasok terbesar
minyak mentah dunia juga berdampak pada Indonesia yang hingga saat ini masih
belum memiliki indeedensi perekonomian, dan kalau boleh jujur, Indonesia masih
membonceng alur ekonomi Amerika, mengingat kedekatan Rezim SBY dengan Amerika
sudah terbangut cukup lama. Mencuplik dari perktaan SBY di atas juga jika BBM
tidak di naikan sekarang justru akan mengganggu stabilitas kepemimpinan Rezim
Presiden terpilih nanti pada pemilu tahun 2014 mendatang.
Pemerintah pun mengupayakan untuk meminimalis dampak sosial yang di
akibatkan kenaikan harga BBM yang akan jatuh pada kisaran harga Rp. 6.500,-.
Salah satunya dengan mengadakan program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat
(BLSM), Beras Untuk Masyarakat Miskin (Raskin), yang di tambah Progam Keluarga Harapan
(PKH) yang di tambah anggaranya beasiswa unuk murid miskuin dan lain-lain.
Namun tampaknya kebijakan pemerintah ini tak lepas dari kritik-kritik dari
berbagai kalangan lapisan masyarakat. Mengingat kebijakan seperti ini sudah
pernah di terapkan sebelumnya tapi hasilnya masih belum memenuhi keinginan dari
pemerintah dan masyarakat. Banyak bantuan yang tidak tersubsidi pada rakyat yang
benar-benar miskin, dan penerima bantuan pun justru banyak dari kalangan
menengah ke atas. Tampaknya hal tersebut seharusnya juga menjadi pertimbangan
pemerintah tersendiri dalam mengambil sebuah kebijakan yang memang di tujukan
untuk mengurangi beban masyarakat miskin sebagai akibat dari dampak naiknya
harga BBM.
Menaggapi problematika nasional seperti ini, terdapat trobosan yang
sangat mutahir yang di lakukan oleh Prof. Dr. K.H Abdhul Ghofur, pengasuh
pondok pesantren Sunan Drajat yang berada di kawasan pantura, lebih tepatnya
berada di kecamatan Paciran kabupaten Lamongan. Terobosan mutakhir tersebut
adalah pembudidayaan Kemiri Sunan yang sudah di lakukan oleh Ya’i Ghofur
(Panggilan Akrab K.H Abdul Ghofur) sejak tiga tahun yang lalu tampaknya sudah
tinggal menunggu hasilnya. Penanaman masal Kemiri Sunan yang memiliki nama
latin Reutealis Trisperma yang berada di kawasan Makam Wisata Sunan
Drajat sudah di resmikan menjadi Kebun Induk oleh Staf Ahli Kementrian
Pertanian pada 2011 kemarin.
Kemiri Sunan sendiri dapat di olah menjadi berbagai macam bahan
seperti pupuk, gliserol, biogas, bahkan biodisel bisa menjadi solusi yang ampuh
untuk menyikapi kenaikan harga BBM jika perhatian dan kesadaran masyarakat
dalam membudidayakan Kemiri Sunan dan di dukung oleh kerja aktif pemerintah
dapat terrealisasikan dengan baik, masyarakat tak kan cemas lagi dengan harga
BBM yang melambung tingggi, naik hingga Rp. 2.000,-. Karena dalam pemakaian BBM
setiap harinya dapat di alihkan menggunakan hasil dari pengolahan kemiri sunan.
Namun tampaknya hingga saat ini perhatian pemerintah etempat maupun masyarakat
masih sangat minim dalam pembudidayaan tanaman ini. Jika tiap masyarakat
menanam kemiri sunan di depan rumahnya, bayangkan dengan 10 biji kemiri sunan
dapat menghasilkan minyak sebanyak 4 Liter, padahal satu pohon kemiri sunan
yang sudah tua dapat menghasilkan hingga 300 biji, itu berarti menghasilkan
minyak sebanyak 120 Liter.Berarti setiap
satu keluarga dapat menghemat pengeluaranya yang seharusnya di pakai untuk
membeli BBM hingga satu tahun penuh bahkan dapat mencapai surplus pengeluaran,
dengan catatan pemerintah daerah setempat menyediakan tempat pengelolahan biji
kemiri sunan. Paling tidak di tiap kabupaten atau bahkan di tiap kecamatanya
oleh pemerintah di buatkan tempat pengelolahan biji kemiri sunan.
Jika hal tersebut dapat terrealisasikan dengan baik, tak hayal jika
dalam 5 hingga 10 tahun kedepan Indonesia akan menjadi negara yang tak lagi
tergantung pada minyak dunia dan memiliki independensi perekonomian dan
stabilitas prekonomian sendiri, dan akan menjadi negara percontohan negara lain
dalam hal penghematan Minyak Mentah dunia yang semakin hari semakin menipis.









0 comments:
Post a Comment