![]() |
| Oleh : NURUL LAILIYYATIS SHOFI |
Jika
dilihat dari nama “santri mahasiswa” timbullah suatu pertanyaan, apakah
mahasiswa santri harus kuliah dengan memakai sarung? Ataukah mahasiswi yang
harus mengenakan cadar?cobalah kita berfikir reflektif, melihat makna, sifat
dan syarat sebagai seorang dapat di sebut sebagai santri dan bagaimana seorang
di sebut mahasiswa, kemudian di satukan, memang akan terdapat banyak perbedaan,
sebab pada dasarnya di demensi yang berbeda dan biogenis yang berbeda pula,
namun jika mahasiswa dan santri di kombinasi menjadi santri mahasiswa bukankah
suatu yang luar biasa, dimana santri mahasiswa yang tetap menjadi mahasiswa dengan
tanpa meninggalkan eksistensi kesantriannya juga menjadi santri tanpa
mengabaikan posisinya sebagai mahasiswa.
Berbicara
identitas maka secara langsung kita membicarakan tentang suatu pembeda yang
membedakan antara santri mahasiswa dengan mahasiswa di luar sana.
Sebagai santri
mahasiswa harus mempunyai rasa bangga karena hidup dalam pesantren modern ini
tidak hanya fokus terhadap kajian kitab klasik namun juga pada ilmu-ilmu
seperti sosial dan yang lainya.
Adanya konsep
pesantren ini akhirya mencetak santri yang unggul dalam hal agama dan
umumnya,maka bukan merupakan suatu yang aneh bila mereka mampu bersaing dengan
kalangan mahasiswa di luar sana, justru ini menjadikan motivasi bagi santri
mahasiswa untuk menuntut dirinya memiliki talenta yang di pondasi dengan ilmu
agama dan di kembangkan dengan ilmu umum.
Pemberlakuan
nilai dan norma,agama serta budaya yang berlaku kapanpun dan dimanapun dia
berada, diantaranya:
v Pakaian
Seperti apa yang di contohkan
baginda rosulullah SAW, santri mahasiswa di biasakan memakai pakaian sederhana,
dimana santri mahasiswa di tuntut berpakaian yang sopan dan rapi, tidak
menggunakan pakaian dengan gambar suatu yang tidak pantas seperti tulisan
jorok, gambar tengkorak dll, celana tetap rapi tanpa di robek-robek bagi
laki-laki dan memakai rok atau longdress bagi perempuan
v Perkataan
Memang mahasiswa di haruskan pandai
berbicara namun dalam ucapanpun kita di atur bagaimana ucapan kita mendatangkan
manfaat dari pada madhorotnya karena perkataan laksana pedang yang mampu
membuat nyawa orang melayang hanya karena proganda yang keluar dari mulut
seseorang.
v Tingkah
laku
Dalam pesantren kita diajarkan untuk
mengedepankan sopan santun,saling menghormati satu sama lain, walaupun sudah
berstatus “maha” namun tetap harus menghormati yang lebih tua, menyayangi yang
muda dan menghargai teman sebaya.
Aspek tersebut
harus lebih menumbuhkan kesadaran diri santri mahasiswa untuk menjadi pribadi
yang hebat dan bermanfaat, karena sudah ditanamkan pelajaran-pelajaran agama,
tauhid, akhlakul karimah, dll. Yang menjadikannya kuat untuk dapat berperan di
kehidupan masyarakat dan tak terombang ambing dengan perbuatan biadap yang membuat rakyat melarat, tetap menjadi
agen of change, agen of control yang yang akan menjadi pembesar-pembesar di
negara bahkan seluruh dunia dengan tetap mengedepankan etika dalam agama islam.
Barokallah,,,,,,semoga
bermanfaat,,,,
Aamiin......









0 comments:
Post a Comment