![]() |
| Oleh : M. Fadhol |
Kita menginginkan kehidupan kita di penuhi dengan
cinta dan kehangatan serta kestabilan.
Atas dasar ini, Allah memerintahkan kita menikah dan menjadikannya sebagai
nikmat terbesar bagi manusia. Hal ini di pahami dari firman-Nya yang artinya :
“Dan
diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri
dan jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepada-Nya, dan
di jadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Rum
[30] :21)
Siapapun yang menginginkan kebahagiaan dalam
pernikahannya, hendaknya ia bisa mengulang kembali masa-masa terindah yang
pernah di laluinya. Pernikahan di perintahkan agar manusia bisa saling mencintai
hingga terciptalah generasi penerus di muka bumi ini. Hal ini di pahami dari
firmaan-Nya. Yang artinya :
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘sesungguhnya aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, ‘mengapa engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
engkau dan mensucikan engkau ?’. Tuhan berfirman, ‘sesungguhnya aku mengtahui
apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:30).
Manusia adalah khalifah Allah di muka bumi,
kekhalifaan ini tidak akan sukses bila tidak ada generasi penerusnya dan
pertautan antara sesama manusia, pertautan antara lelaki dan wanita hingga
darinya lahirlah generasi baru.
Untuk menemui generasi baru membutuhkan pertautan lelaki dan wanita yang beragama dan
nasabnya baik, sesuai dengan hadis yang menerangkan harus memenuhi 4 kriteria
yaitu : Agama, kekayaan,
kecantikan/ketampanan, dan Nasab.
Dari keempat kriteria tersebut dapat kita pahami
sebagai mahasiswa bahwasanya kriteria yang dapat menampung keempat tersebut
ialah mahasiswa yang mempunyai status santri. Karena dari
status santri mahasiswalah yang dapat mensikronkan
apa itu santri ? dan apa itu mahasiswa ? Banyak sekali di media memberi kabar
tentang status mahasiswa yang tidak mempunyai status santri, dan di kampus
metropolitanlah degradasi moral merajalela dari perspektif asusila sampai
pembunuhan.
Maka dari itulah untuk membentuk generasi berikut
membutuhkan suami/istri yang mempunyai status santri mahasiswa, agar tidak ada
degradasi moral yang terus menerus dari zaman kezaman. Seperti pepatah
mengatakan “Temen Nyantri menjadi Temen
Hidup”.
Mungkin harapan kedepanya nanti temen santri
mahasiswa di sekeliling kita akan menjadi temen hidup kita di dunia maupun di
akhirat lebih-lebih di kampus STAI Raden Qosim yang bernaungan di Pondok
pesantren Sunan Drajat. Amiin Amiin Yaa
Robbal ‘alamin.









0 comments:
Post a Comment